Open Recruitmen Aksara Salman ITB

oprec Aksara

Open Recruitment Unit Literasi Aksara Salman ITB

“Ajarkanlah sastra pada anakmu, agar anak pengecut menjadi pemberani” – Nasihat Umar Bin Khatab

Cara daftar dengan SMS ke Dirga ( 085659955145 )
format pendaftaran :
AKSARA_NAMA_AKUN FB_UNIV
atau melalui http://bit.ly/1h0YPJS

Insiden Dili: Apakah Sekadar Insiden?

972104_554076484634890_1006949828_n

 

Judul Buku      : Trilogi Insiden

Penulis             : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit           : PT Bentang Pustaka

Cetakan           : Cetakan Pertama, April 2010

Jumlah halaman : 452 halaman

Kita sering mendengar dan menyaksikan berita tentang kebiadaban tentara Amerika maupun tentara Israel yang bertindak kejam seperti binatang. Namun, ternyata tentara Indonesia (negara kita) pun pernah bertindak sama biadabnya di ‘masa gelap’nya dahulu. Setidaknya itulah yang di(c/b)eritakan oleh Seno Gumira Ajidarma dalam buku ini.

Buku ini sebenarnya terdiri dari 3 buku yang terbit pada tahun 90-an. Dalam cetakan terbarunya, Bentang menyatukan ketiga buku tersebut sebab ketiga buku tersebut memang berhubungan, karena merupakan bagian trilogi. Selain itu, ketiga buku yang dijual terpisah tersebut, kini sudah sangat sulit untuk didapatkan. Maka upaya Bentang menerbitkannya kembali, langsung dalam satu buku ini, sangatlah saya syukuri dan apresiasi.

Buku trilogi ini terdiri dari kumpulan cerpen “Saksi Mata”, novel “Jazz, Parfum, & Insiden”, dan kumpulan esai “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Ketiganya saling berhubungan dan memiliki tema utama yang sama-sama bercerita tentang Insiden Dili.

Insiden Dili terjadi pada tanggal 12 November 1991. Insiden ini juga dikenal sebagai Insiden Santa Cruz atau Pembantaian Santa Cruz karena terjadi di kompleks pemakaman Santa Cruz. Dari keterangan Wikipedia, kejadian ini mengakibatkan 271 orang tewas, 382 terluka, dan 250 menghilang. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa dan pemuda Timor Timur. Namun, terdapat juga wanita dan orang asing, salah satunya warga Selandia Baru, Kamal Bamadhaj, seorang pelajar ilmu politik dan aktivis HAM yang berbasis di Australia.

Dalam kumpulan cerpen “Saksi Mata”, Seno menceritakan kisah-kisah tentang kekejaman yang terjadi pada orang-orang di suatu daerah. Meskipun Seno tidak menyebutkan lokasi kejadiannya di Dili, ia menuliskan nama-nama tokoh yang mengalami kekejaman tersebut dengan nama-nama yang berbau peninggalan Portugis. Kita segera menyadari itu adalah ciri khas nama orang Timor Timur.

Selain itu, cerita dalam cerpen-cerpennya memang serta merta akan mengingatkan kita pada Insiden Dili dan konflik di Timor Timur. Ia bercerita tentang banyaknya orang yang disika dan dipotong telinganya. Tentang banyaknya orang yang diculik. Tentang banyaknya perempuan yang diperkosa. Tentang banyaknya ibu yang kehilangan anaknya, istri kehilangan suaminya, adik kehilangan kakaknya. Tentang pembantaian di sebuah kuburan. Tentang statistik jumlah penduduk yang semakin menurun, tidak seperti di tempat-tempat lain. Tentang orang yang disetrum dengan listrik dan dibakar alat kelaminnya dengan puntung rokok. Tentang ‘ninja-ninja’ yang masuk rumah warga pada malam hari dan menyiksa dan menculik orang-orang yang diduga pemberontak. Tentang apa saja yang memang mengingatkan orang pada Insiden Dili dan situasi rawan Timor Timur pada masa-masa ketegangan sebelum berlepas dari Indonesia di masa pemerintahan Soeharto.

Pada novel “Jazz, Parfum, & Insiden”, Seno menggabungkan esai tantang jazz, cerita fiksi tetang berbagai perempuan dengan parfum-parfumnya, dan laporan para saksi mata tentang terjadinya Insiden Dili. Pada novel ini ia bercerita tentang seorang pekerja jurnalis (wartawan) di sebuah kantor ibu kota yang mesti membaca banyak laporan dari banyak saksi tentang suatu insiden atau lebih tepatnya pembantaian (sebab insiden terkesan adalah suatu kejadian yang tidak disengaja) yang terjadi di daerah timur sana. Wartawan itu (kebetulan?) sangat menyukai jazz dan tahu banyak tentangnya. Ia sering mendengar jazz pada malam hari, pada kehidupan malam yang begitu kelam. Bunyi musik jazz itu sangatlah menyayat hati layaknya jeritan hati dari para korban insiden yang ia baca dalam laporan-laporan tersebut.

Selain sering mendatangi kehidupan malam, melepas lelah dari pekerjaannya, wartawan itu juga menjalin hubungan dengan banyak perempuan. Kemudian dari sanalah ia bisa menilai sifat-sifat perempuan dari parfum yang dipakainya. Ia mengenal banyak jenis parfum dan banyak jenis perempuan.

Bagian pamungkas, menurut saya ini adalah bagian yang akan sangat tak lengkap jika kita membaca Trilogi Insiden tanpa membaca bagian ini: kumpulan esai “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Di sinilah Seno membeberkan proses tentang bagaimana ia menulis trilogi ini.

Awalnya Seno bekerja sebagai seorang pemimpin redaksi di sebuah majalah Jakarta Jakarta. Suatu ketika Seno memuat laporan berita tentang Insiden Dili dalam majalah tersebut dan setelah itu pemilik majalah kemudian mencopot jabatannya  atas instruksi dari orang yang memiliki kekuasaaan lebih di negeri itu saat itu. Masih untung ketika itu majalah Jakarta Jakarta tidak sampai dibredel.

Karena tidak menerima dengan keadaan tersebut, Seno melawan. Ia berpikir bagaimana mungkin peristiwa kejam yang terjadi di Timor Timur sana tidak diberitakan dan dibiarkan begitu saja. Naluri kemanusiaan dan kewartawanannya tentu menolak mentah-mentah. Maka setelah itulah ia membuat kumpulan cerpen “Saksi Mata” dan novel “Jazz, Parfum, & Insiden” untuk menceritakan kebenaran yang terjadi seputar Insiden Dili dalam kemasan fiksi. Ia berpendapat, ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran.

Maka mulailah Seno menuliskan semuanya. Dalam kumpulan cerpen “Saksi Mata”, Seno menceritakan kisah-kisah yang terjadi di Timor Timur sana dari hasil laporan wawancara dengan para saksi mata yang berada di Timtim sana. Meski banyak cerpen ia buat dengan gaya surealis, sebenarnya dalam cerpen-cepern itu ia kutipkan penggalan-penggalan dari laporan kesaksian yang ia peroleh tersebut.

Belum puas dengan kumpulan cerpen itu, ia membuat novel “Jazz, Parfum, & Insiden” yang ia sempatkan laporan para saksi Insiden Dili tersebut secara bagian per bagian yang diselingi dengan cerita tentang jazz dan parfum dalam novel tersebut. Laporan tersebut ia tulisakan secara utuh, semuanya. Tidak seperti dalam laporan berita dalam majalah Jakarta Jakarta sebelumnya yang ia harus menyensor dan membuang beberapa bagian agar majalah tersebut tidak dibredel, tapi tetap saja ternyata ia harus dipecat.

Selain berisi tetang proses dan alasan penulisan “Saksi Mata” dan “Jazz, Parfum, & Insiden”, dalam kumpulan esai ini Seno juga menceritakan proses dan alasan penulisan beberapa cerpennya yang lain seperti tentang peristiwa penembakan miterius yang banyak terjadi juga di era Orde Baru (termasuk di ibu kota), tentang obsesinya pada senja, tentang kisah seorang anak di lingkungan postitusi dalam cerpen “Pelajaran Mengarang”-nya, dan banyak lagi seputar proses kreatif menulisnya.

Seno memang terkenal sering memberikan sengatan-sengatan alias kritik sosial dalam tulisan-tulisan cerpennya. Ia sering menulis cerita-cerita dengan gaya surealisme, tapi juga sarkasme untuk menyampaikan maksud dalam cerita-ceritanya. Baginya soal kemanusiaan harus dijunjung paling tinggi, di atas persoalan politik dan sebagainya. Berdasarkan pengalamannya, ia berpendapat bahwa jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, tetapi kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri.
Saya memberi judul resensi ini dengan pertanyaan “Insiden Dili: Apakah Sekadar Insiden?” bukan tanpa maksud. Di zaman Orba, peristiwa tersebut dalam media-media massanya disebut sebagai insiden (yang bersifat ketidaksengajaan). Akan tetapi, saya yakin bila Anda menelusuri keterangan-keterangan mengenai peristiwa tersebut, Anda juga akan berpendapat seperti saya bahwa itu adalah sebuah pembantaian, sebuah tragedi. Bagaimana mungkin kejadian sejumlah tentara yang menembakkan rentetan peluru kepada sejumlah massa yang tengah berdemo dan mengenang penguburan seorang rekan mereka yang ditembak mati sebulan sebelumnya di suatu lokasi pemakaman Santa Cruz dianggap sebagai insiden belaka, kejadian yang tak disengaja? Ya, tentu ini terkait soal pers yang dibungkam ataupun sengaja membungkamkan diri di zaman itu.
Menurut Seno, meskipun kini sudah zaman Reformasi, Departemen Penerangan (Orde Baru) sudah dibubarkan, dan tampaknya pers bebas untuk menggugat apapun dan siapapun, sebetulnya ancaman pembungkaman itu tetap ada. Ketika pers masih sungkan, atau takut menyampaikan berbagai berita sensitif menyangkut militer, agama, golongan etnik atau tokoh-tokoh tetentu, sebetulnya situasi self-cencorship yang pernah menjadi momok pers Indonesia belum betul-betul pergi.

Sekarang, kita masih kerap mendengar berita tentang wartawan yang mengalami kekerasan dan penyiksaan ketika bertugas, bahkan ada yang sampai mati. Selain itu, kini banyak media massa di Indonesia saat ini yang dikuasai oleh pejabat-pejabat politik partai tertentu. Tentu dalam hal ini politik masih akan sangat mempengaruhi (untuk tidak dikatakan sangat menguasai) kebebasan pers. Lagi-lagi memang soal kekuasaan. Belum lagi dari segi bisnis dan kekuasaan para kapitalisnya.

Apakah pers di Indonesia saat ini sudah benar-benar merdeka? Sudah dapat bersikap bebas dan jujur?

NB: Buku ini cocok untuk dibaca setiap lapisan masyarakat, tetapi untuk anak kecil sebaiknya jangan dulu karena banyak cerita soal darah dan kekejaman sekelompok manusia yang memperlakukan kelompok manusia lainnya seperti binatang.

Tambahan: Kelebihan buku ini adalah buku ini memiliki isi yang sangat bernas (berkualitas dan bermakna) dan sangat berani. Kita akan diingatkan atau diberitahukan (seperti bagi saya yang lahir tahun 1992, setahun setelah terjadinya Insiden Dili 12 November 1991) tentang peristiwa yang sangat mencoreng nilai-nilai kemanusiaan dan menimbulkan citra buruk Indonesia di dunia internasional. Semoga peristiwa tersebut dapat menjadi pelajaran sejarah bagi bangsa kita sendiri agar ke depannya tidak terulang lagi kejadian serupa. Kekurangannya adalah di bagian novel, esai-esai tentang jazz terasa agak menjemukan karena pembahasannya terlalu panjang dan kurang dikemas secara menarik, kecuali bagian-bagian tentang filosofi-filosofi jazz yang menyangkut soal kehidupan manusia, seperti kutipan ini “Apakah hidup seperti jazz? Kehidupan, seperti jazz, memang penuh improvisasi. Banyak peristiwa tak terduga yang haru selalu kita atasi. Kita tak pernah tahu ke mana hidup ini akan membawa kita pergi. Kita boleh punya rencana, punya cita-cita, dan berusaha mencapainya, tapi hidup tak selalu berjalan seperti kemauan kita. Barangkali kita tidak pernah mencapai tujuan. Barangkali kita mencapai tujuan kita, tapi dengan cara yang tidak pernah kita bayangkan. Barangkali juga kita tidak punya tujuan dalam hidup ini, tapi hidup itu akan selalu memberikan kejutan-kejutannya sendiri. Banyak kejutan. Banyak insiden. Seperti jazz? Entahlah. Aku agak mabuk.”

Ada beberapa kutipan tulisan Seno dalam buku ini yang layak untuk kita diskusikan:

1. “Aku tidak mengerti dengan orang-orang. Kalau kita kawin dan belum punya anak, selalu ditanya, ‘Kenapa belum punya anak?’ Kalau kita punya anak satu, lantas akan ditanya lagi, ‘Kenapa cuma punya anak satu?’ Repot benar mengurusi orang lain. Heran! Setiap wanita tentu senang kalau punya anak, tapi kalaupun misalnya tidak, ia tidak harus merasa tidak berbahagia, kan?”]

Itulah masalahnya. Apakah seseorang harus kawin karena orang-orang lain kawin, dan apakah seseorang harus punya anak karena orang-orang lain punya anak? (halaman 190)

2. Tapi, ngomong-ngomong, bicara tentang kejujuran –seberapa jauh seorang wartawan di negeri ini diberi             kesempatan untuk menjadi jujur? (halaman 256)

3. Barangkali ideologi memang belum mati. Namun, kalau masih hidup pun sebaiknya ideologi dibunuh  saja. Terlalu banyak omong kosong dalam perbincangan ideologis –yang kita perlukan adalah kebahagiaan yang konkret, O2 yang beres, dan desis aliran sungai yang menyejukkan hati. Bukan mulut-mulut terbuka yang mengeluarkan bau busuk karena penuh dengan sampah dan barangkali tikus. Hueeeekkkk! Aku mau muntah.

…Aku jadi ingat tukang sampah, inilah orang-orang yang membuat bumi lebih layak ditinggali. Mereka bukan hanya harus diberi persen, mereka harus diberi tanda jasa. Bukan hanya dalam bentuk medali dan bintang, melainkan sebuah kehidupan yang tenang dan bersih. Tapi, siapakah yang memikirkan mereka? Jangankan kamu, akupun tidak. (halaman 258)

 

[UP]

 

 

Resensi : Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade

filosofikopi-deeJudul buku : Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
Penulis : Dewi ‘Dee’ Lestari
Penerbit : Truedee Books dan GagasMedia
Tahun terbit : 2006
Jumlah halaman : 134
No. ISBN : 979-96257-3-4

Buku Filosofi Kopi ini merupakan buku yang berisi kumpulan 18 cerpen dan prosa yang ditulis Dee selama satu dekade (tahun 1995 hingga 2005). Buku ini dianugerahi sebagai karya sastra terbaik tahun 2006 oleh majalah Tempo. Pada tahun yang sama, Filosofi Kopi juga berhasil dinobatkan menjadi 5 Besar Khatulistiwa Award kategori fiksi. Filosofi Kopi sendiri merupakan judul dari salah satu cerpen, yang penulis jadikan sebagai cerita pembuka dalam buku ini.

Filosofi Kopi bercerita tentang dua orang pemuda bernama Ben dan Jody yang memulai usaha kedai kopinya dari nol. Usaha dan kegigihan mereka membuat kedainya menjadi incaran para pecinta kopi dari berbagai daerah. Ben yang bertugas sebagai peramu kopi sangat tergila-gila pada kopi, dan ia yakin bahwa setiap jenis kopi memiliki filosofi tersendiri. Maka dari itu, ia yang telah menjelajahi semua jenis kopi dari berbagai negara, membuat filosofi untuk setiap kopi racikannya. Selain rasanya yang nikmat, hal inilah yang menjadikan kedai kopi yang mereka namai Filosofi Kopi diminati oleh banyak orang. Selain itu, Ben membuat kartu kecil yang dibagikan kepada setiap orang sehabis berkunjung, yang bertuliskan nama kopi yang diminum dan keterangan filosofinya.

Suatu hari datang salah seorang pria pecinta kopi yang memberikan tantangan kepada Ben untuk menciptakan kopi yang apabila diminum akan membuat peminumnya menahan napas dan hanya bisa berkata: hidup ini sempurna. Apabila Ben dapat menciptakan kopi sempurna sesuai keinginannya, maka ia akan memberikan uang sebesar Rp50 juta kepada Ben. Ben yang ambisius tentu saja menerima tantangan tersebut. Kerja kerasnya selama beberapa minggu membuahkan hasil. Kemudian Ben menamai kopi tersebut “BEN’s PERFECTO”.

Pagi-pagi sekali Ben menelepon penantangnya dan akhirnya ia datang pada sore hari. Disaksikan semua pelanggan, Ben menyuguhkan secangkir Ben’s Perfecto. Pria itu menyeruput perlahan, setelah beberapa saat, ia berkata, “hidup ini sempurna”. Kedai kopi tersebut pun dipenuhi tepuk tangan pelanggan yang lain. Kemudian pria itu mengeluarkan selembar cek kepada Ben dan berkata, “Selamat. Kopi ini perfect. Sempurna.” Minuman tersebut menjadi menu favorit semua langganan, sehingga omzet yang diraih pun meningkat.

Di suatu pagi, datang seorang pengunjung baru ke Filosofi Kopi. Jody langsung menyambutnya dan merekomendasikan Ben’s Perfecto kepada tamunya. Ia setuju. Dalam waktu singkat, Ben sudah menyuguhkan secangkir Ben’s Perfecto. Lalu ia menanyakan pendapat tamu tersebut. Dengan wajah datar, tamu tersebut hanya menjawab, “lumayan” jika dibandingkan kopi yang pernah dicicipinya di suatu tempat di Jawa Tengah.

Untuk memenuhi rasa keingintahuannya, Ben dan Jody langsung menuju lokasi tersebut dan mereka menemukan secangkir kopi tiwus yang disuguhkan oleh pemilik warung reot di daerah tersebut. Ben dan Jody meminum kopi tersebut tanpa berbicara sedikitpun. Kopi tersebut memiliki rasa yang jauh lebih sempurna dibandingkan Ben’s Perfecto. Ben yang merasa gagal kembali ke Jakarta dan putus asa. Untuk mencari tahu cara menghibur temannya, Jody kembali menemui pemilik warung tersebut dan sepulangnya dari sana, dia menghidangkan Ben segelas Kopi Tiwus. Bersamaan dengan kopi tersebut, dia memberikan sebuah kartu bertuliskan “Kopi yang Anda minum hari ini Adalah: “Kopi Tiwus. Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya”. Pada akhirnya Ben sadar bahwa hidup ini tidak ada yang sempurna. Semangat Ben pun kembali tumbuh dan melanjutkan perjuangan serta hobinya di kedai Filosofi Kopi.

Jika dibandingkan dengan cerpen yang lain, Filosofi Kopi-lah yang paling saya sukai. Ceritanya sungguh menarik dan mengandung pesan yang sangat dalam. Selain cerita tentang Ben, sang peramu kopi, terdapat karya-karya lain yang bercerita tentang pencarian cinta sejati, cinta bertepuk sebelah tangan, melupakan masa lalu dengan sikat gigi, persahabatan, kisah cinta dari sudut pandang kecoa.

Buku ini berisi kata-kata yang tidak begitu saja dimengerti. Sehingga untuk mendalami cerita dan prosa ini, pembacanya harus cukup berpikir. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan Rectoverso yang pernah saya baca sebelumnya, Filosofi Kopi masih termasuk bacaan yang lebih ringan. Namun tetap saja terdapat beberapa karya yang menurut saya membingungkan, sebab dikemas dalam prosa yang berbentuk puisi, atau sebaliknya. Satu kelemahan lainnya adalah di cover buku tersebut yang menurut saya kurang menarik minat baca para remaja.

Resensi : Dari Kosmologi ke Dialog

 

dari-kosmologis-ke-dialog

Judul: Dari Kosmologi ke Dialog: Mengenal Batas Pengetahuan, Menentang Fanatisme.

Penulis: Karlina Supelli

Halaman: 279

ISBN: 978 – 602 –97633 – 5 – 5

Edisi: Cetakan I

Penerbit: Penerbit Mizan Publika

Tahun: 2011

 

 

Sejarah pernah bergeser dari zaman iman (the Age of Faith) ke zaman nalar (the Age of Reason), dan kini bergeser lagi ke zaman penafsiran (the Age of Interpretation), sehingga kita pun cenderung terseret ke nihilisme NIETZSCHE yang mengatakan bahwa “tidak ada fakta, hanya ada penafsiran” yang sebenarnya juga adalah sebuah penafsiran. Kalau orang tidak pernah bisa mencapai pengetahuan yang utuh dan pasti tentang realitas, tentulah pesan itu sendiri tidak pernah mencapai keutuhan yang pasti, jelas KS pada Hlm. 73.

Sekarang kita cemas menyaksikan bagaimana ciri antropologis-antropo-sosial itu disingkirkan demi orang bisa mendaku tahu tentang tuhan dan bahkan tahu apa yang tuhan mau. Kita sibuk omong tentang pluralisme tetapi tribalisme politik sektarian, khususnya yang bertumpu di atas agama, justru semakin mengeras. Politik ini menolak argumen apa pun kecuali yang mereka yakini berasal dari tuhan, dan mereka menolaknya dengan cara brutal (Hlm. 74).

Dampak ketegangan persoalan makna dan kebenaran penafsiran yang kita alami sehari-hari di negeri ini, jelas jauh lebih brutal daripada ketegangan antara teolog dan ilmuwan. Perbedaan menafsirkan hubungan antara tuhan, alam, dan manusia menyeret kita tunduk pada paksaan dogmatik menyangkut bagaimana manusia harus bersikap, harus percaya dan terutama harus harus merasa gentar (Hlm. 75).

Hidup di dunia melibatkan kegelisahan tentang seberapa jauh jarak antara alam dan Alam, sains dan agama, kata tentang tuhan dan Tuhan yang sehari-hari hidup di dalam diri seseorang? Kalau pun kita tidak sanggup mengukurnya, bagaimanakah memaknai jarak antara epistemologi, hermeneutik dan ontologi? Jarak antara cara kita mengetahui dan memahami peristiwa-peristiwa wahyu; antara konsep tentang tuhan dan Dia yang tak terkenai konsep apa pun juga; antara gejala kehidupan yang terjangkau secara kongkret dan yang menarik diri ke dalam bayang-bayang senyap (Hlm. 76).

Secara khusus, refleksi ini mengajukan argumen bahwa laku mengetahui dan memahami mengandaikan pengakuan akan ciri antropologis setiap bentuk pengetahuan. Apa yang rupanya terjadi adalah kecenderungan pemutlakan, yang mengarah pada dogmatisasi pengetahuan melalui penyingkiran ciri antropologis yang intrinsik pada actus mengetahui itu sendiri. Peluang bagi dialog antara sains, filsafat, dan agama akan terbuka jika, dan hanya jika ciri antropologis pengetahuan tersebut dihargai secara memadai (Hlm. 21-22).

Ciri Antropologis Pengetahuan

Cakrawala Pengamatan

Karena pengetahuan amat luas sementara kapasitas mengetahui semakin terkotak-kotak menurut spesialisasi bidang ilmu, maka KS membatasi dialognya pada bentuk pengetahuan ilmiah, khususnya kosmologi. Mengapa kosmologi?

Pertama, kendati merupakan bagian dari ilmu-ilmu empiris, kosmologi tidak mungkin menghapus tradisi yang melahirkannya, yaitu upaya-upaya mitis, religius dan filosofis yang bermaksud menjawab kerinduan manusia akan asal-usul (Hlm. 23). Kedua, karena sejarahnya, kosmologi merupakan bidang ilmu yang terletak di perbatasan. Kosmologi menggunakan data dan pendekatan beragam bidang ilmu tanpa terkendala oleh batas-batas metodologis yang ketat, tetapi juga tidak menyangkal adanya pembidangan pengetahuan. Selain itu, dalam kosmologi, spesialisasi menjadi sulit karena pokok yang ditelaah adalah alam semesta sebagai suatu keseluruhan (Hlm. 23-24). Ketiga, kosmologi adalah sains yang unik karena alam

semesta itu sendiri unik. Sejauh kita ketahui, tidak ada alam semesta lain. Alam semesta yang dipelajari dalam kosmologi sebagai suatu keseluhuhan adalah satu-satunya objek yang diketahui ada dan kosmolog berada di dalamnya. Dalam model big bang, kendati Bumi bukan pusat tatasurya maupun galaksi Bima Sakti, bagi kita Bumi adalah satu-satunya pusat orientasi bagi penginderaannya. Bumi adalah pusat alam semesta teramati (Hlm. 25). Sejauh menyangkut kosmologi, kita ibarat orang-orang yang terkurung di dalam gua Plato tetapi ingin memaparkan kondisi keseluruhan gua, baik struktur maupun evolusinya. Dengan meminjam cara kerja kosmologi dan dengan tiga titik berangkat inilah KS mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan di awal pembicaraan.

Hipotesis Hantu

KS menjelaskan problem epistemologi manusia berangkat dari artikel yang berjudul “Dari Kosmologi Cermat menuju Kosmologi Tepat”, pertanyaannya, seberapakah nilai kecermatan dan ketepatan yang dimaksud? Maka simaklah kompilasi data kosmolog tentang apa saja isi alam semesta yang sudah diketahui dari data agihan materi-energi skala besar yang terkumpul dalam beberapa tahun terakhir:

* 5 persen kandungan alam semesta adalah materi-energi konvensional yang diketahui dan dapat diamati melalui berbagai panjang-gelombang. Contohnya adalah bintang, planet, galaksi, gunung-gunung, lautan, bangunan-bangunan di berbagai kota di dunia, makhluk hidup termasuk Anda dan saya;

* 23 persen adalah materi gelap dingin (cold dark matter) alias dugaan-dugaan yang dapat diprediksi dan mulai mendapat topangan bukti pendukung meski wujud kongkretnya masih belum diketahui;

* 72 persen adalah energi gelap (dark energy).

Ringkasnya, kalau kita bicara kosmologi cermat dan tepat berdasarkan statistik agihan materi-energi, maka data 5 persen itulah yang mendukung kerangka konseptualnya. Selebihnya adalah dakuan teoretis (knowledge-claim) dan sebutan bagi kekosongan pengetahuan untuk menjembatani jurang lebar antara teori dan observasi (Hlm. 28-29). Untuk menjembatani jurang itulah kosmolog mengajukan hipotesis materi gelap yang tak teramati tetapi menimbulkan efek yang dapat dideteksi… Kongkretnya, hipotesis energi gelap diajukan agar model big bang tdak retak dan agar hukum-hukum fisika yang ada dapat tetap diberlakukan tanpa perlu dimodifikasi. Teori relativitas yang menopang big bang mengandung kekekatan dan kelengkapan logis, sehingga sebagaimana dinyatakan Einstein, “jika satu saja kesimpulannya terbukti salah, (teori) harus menyerah; tidak mungkin memodifikasi tanpa menghancurkan seluruh struktur.” Apakah status ilmiah kosmologi terpengaruh oleh statistik yang ditunjukkan di atas? Apakah angka-angka itu sanggup memaksa kita menerima lagi antinomi Kant, yaitu bahwa setiap upaya untuk memeroleh pengetahuan menyangkut totalitas alam semesta, pasti menjerumuskan kita dalam kegagalan? (Hlm. 30-34).

Kesesatan Epistemik

Kendati eksperimen dan observasi merupakan langkah dalam kegiatan ilmiah yang paling sukar untuk dikompromikan, hubungan antara teori dan observasi tidak sederhana. Kegiatan ilmu pengetahuan dalam bidang apapun tidak pernah melulu merupakan kegiatan pengumpulan fakta. Ketidamemadaian data untuk memberi dukungan penuh bagi teori merupakan batas dari pemaparan empiris. Bahasa teoretis tidak sepenuhnya dapat dialihkan ke bahasa empiris. Ilmuwan mencoba mengatasi kendala epistemik itu melalui langkah metodologis sederhana (Hlm. 34-35). Tidak jarang postulat dirumuskan berdasarkan intuisi akan kesetangkupan, keselarasan, ketertataan, dan keratahan. Bagi ilmuwan semua itu merupakan ungkapan keindahan. Dalam sains, khususnya fisika, keindahan bukan hanya perkara rasa perasaan yang bersumber di pengalaman inderawi, tetapi terkait dengan penalaran matematis. Tidak sedikit ilmuwan yang menaruh keindahan sebagai prinsip regulatif, yaitu sebagai praduga (presumption) metodologis yang memungkinkan ilmuwan dapat membangun sistem eksplanasi (Hlm. 37). Hampir tidak ada bidang ilmu yang tidak menanamkan postulat atau asumsi di belakang teori. Asumsi diperlukan sebagai elemen alami dari bangunan pengetahuan. Tapi persis karena itu asumsi secara otomatis dianggap diketahui oleh para pengguna teori. Masalahnya, anggapan itu tidak selalu berlaku ketika teori diterapkan. Sesudah para pencetus teori mati, para penerus memerlakukan teori seolah-olah bebas asumsi. Atau, lebih parah lagi

sebagai entitas nyata (Hlm. 37). Dalam ilmu-ilmu alam, kesesatan epistemik ini paling jauh menghasilkan penyamaan antara model dengan objek nyata tanpa dampak etis… Dalam ilmu-ilmu sosial, ilmu-ilmu kehidupan dan ilmu-ilmu manusia, kecenderungan yang muncul dari sikap gegabah itu adalah reduksionisme. Ketika sebuah sarana konseptual terlanjur diperlakukan sebagai ada yang sesungguhnya, manusia tidak lebih daripada gugus persenyawaan beragam skema yang isinya prinsip-prinsip umum. Dari situlah lahir kecenderungan seolah-olah manusia tidak lain kecuali the unconscious, basic instinct, selfish genes, dsb. (Hlm. 38).

Melompati Keterbatasan Pencerapan

Ketika mencerap objek, manusia membangun perspektif tertentu tentang objek. Ia dipandu ingatan akan tradisi, kepercayaan, pengetahuan atau ingatan-ingatan akan objek sebelumnya, dsb. Ia juga memiah-milah objek dan menggolongkannya ke dalam kategori tertentu sesuai perspektifnya mengenai tatanan tertentu (Hlm. 40). Namun pengetahuan tidak berhenti pada objek. Pengetahuan adalah sebuah sistem putusan yang saling berhubungan. Makna konsep pengetahuan terletak pada hubungan-hubungan di dalam sistem itu. Pengetahuan adalah hasil kontribusi imajinasi terhadap apa yang dicerap dalam pengalaman inderawi (Hlm. 40). Dari perspektif filsafat manusia, kita belajar bahwa ketegangan antara keterbatasan pencerapan dan ketakterbatasan (upaya) pengetahuan mencirikan kecenderungan manusia untuk memberi makna yang mengatasi ketebatasan cara pandang (Hlm. 42).

The Cloud of Unknowing

Seandainya ada orang bertanya kepada seorang kosmolog, “apakah alam semesta?” Cukup pasti, ia akan menjawab dengan hati-hati. Jika yang dimaksud adalah ‘alam semesta’ (dengan ‘a’ dan ‘s’ huruf kecil), maka ia akan menjawab bahwa itu adalah sebutan umum (generic name) bagi model-model alam semesta. Ia mungkin juga akan memberi contoh, misalnya, alam semesta Dante, alam semesta Newton, alam semesta big bang, alam semesta Jawa, dsb. Namun kalau si penanya memaksudkan Alam Semesta sebagai nama-diri (proper name) yang rujukannya adalah ruang-waktu yang mendahului semua penyelidikan kosmologi, maka sangat besar kemungkinan ia akan menjawab “the cloud of unknowing” (Hlm. 52).

Pengetahuan dan Politik

Apa hubungan antara kesibukan memerkarakan alam semesta dan kecenderungan dogmatisasi pengetahuan?

Situasi Eropa menjelang Perang Dunia I khususnya di Austria dan Jerman. Kedua negara itu sedang melancarkan kebijakan untuk reformasi pendidikan. Perdebatannya, apakah kebijakan pendidikan sebaiknya diarahkan bagi pendidikan umum untuk masyarakat kebanyakan yang sebagaian besar masih kurang terdidik, ataukah ke pendidikan spesialis untuk menghasilkan profesional? (Hlm. 52).

Jawaban atas pertanyaan itu melibatkan perdebatan keras sepanjang tahun 1908 sampai 1913 antara dua ilmuwan terkemuka, Ernst Mach dan Max Planck. Posisi epistemologis dalam menyikapi tujuan ilmu pengetahuan ternyata berpengaruh besar pada kebijakan pendidikan dan kebijakan riset yang mereka usulkan (Hlm. 53). Mach menjadikan sejarah ilmu pengetahuan sebagai sumber kreatif untuk membangun perspektif kritis terhadap ilmu pengetahuan, baik pada aras teori, metode maupun kelembagaan. Pendekatan ini juga membongkar sikap komunitas ilmiah yang tidak jarang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan melalui orientasi teoritis yang seragam dalam riset dan dalam pengajaran (Hlm. 56).

Plank menolak keras ide Mach. Planck percaya bahwa sasaran akhir kegiatan ilmiah adalah de-antroformisme segala bentuk pengetahuan. Pokok tersebut ia ajukan karena menyadari bahwa tugas ilmuwan dalam komunitas ilmiah adalah mebangun gambar-dunia (model) dimana model yang disepakati oleh komunitas ilmiah akan menjadi pemandu dalam kegiatan ilmiah. Planck bahkan berpendapat bahwa ilmuwan tidak perlu ragu-ragu untuk menyatakan bahwa gambar-dunia yang ia gunakan adalah gambar yang paling dekat dengan dunia nyata.

Karena memandang ilmu pengetahuan hanya sebagai alat untuk menata gejala, Mach menyokong konsep ilmu pengetahuan yang bebas nilai. Berbeda dengan Planck, Mach menolak perang. Ironisnya, konsep netralitas ilmu yang diperjuangkan dengan harapan ilmuwan tidak menyalahgunakan ilmu pengetahuan

untuk kepentingan politik, justru berakibat sebaliknya. “Sarana” Mach ternyata menghasilkan senjata pemusnah massal yang dalam sekejap menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki. Persis, netralitas “sarana” itulah yang dikhawatirkan Planck (Hlm. 57-59).

Mengertilah kita bahwa ketika Mach dan Planck berdebat secara terbuka tentang eksistensi atom, mereka tidak sekedar berdebat tentang bagaimana menafsirkan hasil-hasil eksperimen ilmiah atau pun memerkarakan dasar-dasar realitas. Kajian epistemologi sosial menunjukkan bahwa lewat perdebatan terbuka itu, Mach dan Planck sedang mencoba memengaruhi arah kebijakan riset, pendidikan, dan bagaimana orang bersikap di bawah ketegangan situasi politik. Problem yang pada mulanya mengemuka seolah-olah sebagai urusan menafsirkan konsep ilmiah, ternyata membawa dampak yang jauh lebih luas. Kisah perseteruan epistemologis antara Mach dan Planck berujung di pertarungan kekuasaan menyangkut kebijakan pendidikan dan pilihan karier yang memengaruhi masa depan kaum muda Jerman dan Austria. Tantangan Mach terhadap Planck lebih tentang perspektif bagaimana masyarakat dapat menyelesaikan masalah-masalahnya melalui trial and error, ketimbang bagaimana mencapai kebenaran objektif non-antroposentris (Hlm. 59).

Manusia sebagai Syarat Batas

Pergulatan para ilmuwan mungkin dapat sedikit memberi gambaran betapa rumit masalah pengetahuan dan penafsiran. Realitas ternyata tidak semantap seperti yang kita bayangkan. Realitas punya banyak wajah. Rupa yang ia tampilkan bergantung pada pertanyaan yang kita ajukan, instrumen yang kita pilih untuk mengenalinya, dan tata simbolik yang kita bangun untuk mengekspresikannya. Rupa apa pun yang mengemuka melalui wajah itu, memengaruhi bukan hanya perkembangan isi pengetahuan kita, tetapi terutama membentuk cara pandang, cara bersikap, cara merasakan, dan cara memutuskan. Rupa itu bahkan ikut membentuk visi yang ingin kita capai. Tata simbolik yang kita gunakan untuk mengekspresikan keragaman wajah realitas menandai ciri antropo-sosial pengetahuan. Para kosmolog baru menyadari bahwa mereka harus menaruh postulat manusia sebagai syarat metodologis, ketika Haldane menegur euforia mereka membangun macam-macam alam semesta pada pertengahan abad ke-20.

Mengapa alam semesta ada dan seperti ini?

Postulatkan manusia! Baru kemudian Anda dapat memulai kosmologi yang masuk akal.

Apa yang terdengar sebagai keangkuhan antoposentis ini sebetulnya adalah pengakuan metodologis akan ciri antropologis pengetahuan manusia. Hanya sesudah mengajukan postulat itu, Anda dapat merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui kosmologi abad ke-21: Syarat apa yang diperlukan bagi kehadiran manusia? Model alam semesta bagaimana yang menampung persyaratan itu? Hukum-hukum fisika apa yang memungkinkan alam semesta tetap stabil untuk waktu yang lama sehingga evolusi berkesempatan menghadirkan manusia. Menerima cakrawala antropik adalah menerima bahwa pengetahuan sekaligus adalah refleksi atas ketaklengkapannya sendiri (Hlm. 64-65).

Kosmos dan kosmos

kosmologi berisi ketegangan abadi antara yang ada di luar dan di dalam cakrawalanya. Antara langit dan bumi, antara yang imanen dan transenden, yang terbatas dan tak terbatas. Kosmologi ini terbuka hanya apabila orang yang bersedia melampaui tataran empiris dan tataran konseptual, yang kerap sangat kikir terhadap keragaman pengalaman manusia akibat tuntunan rasionalitas dan objektivitas ilmu pengetahuan. Bagi banyak ilmuwan, ruang antara kosmologi dan Kosmologi merupakan kawasan tak bertuan. Sebelah kakinya menapak di daratan ilmu pengetahuan sedangkan kaki yang lain ada dalam ruang-ruang pengalaman yang tak tertuturkan. Orang hanya bisa menggunakan metafora ‘melompat’ ketika mulai melangkah memasuki pengalaman yang menghadirkan suatu pengetahuan, tetapi tentangnya ia tidak dapat berbicara apa-apa (Hlm. 67-68).

Konflik Penafsiran

Konflik ini kerap bersumber di kegagalan manusia menjalin pemahaman tentang k dengan pengalaman akan K. Kita bebas memberi tafsiran estetik, teistik, maupun ateistik bagi relasi tersebut. Kita bisa, misalnya memaknai realitas terbatas yang melingkupinya sebagai pancaran, penanda ataupun

perwujudan dari sifat-sifat Eksistensi Tak Terbatas. Tapi orang juga bisa memaknai sebaliknya, dunia ini adalah satu-satunya dunia yang ada.

kosmos adalah perkara pengetahuan yang ditopang oleh data dan diteguhkan melalui metode verifikasi/falsifikasi. Sementara K adalah perkara penafsiran atas pengalaman tak teratur yang kerap lalu bertopang di atas dasar pewahyuan. Sejarah memberi kita contoh tentang bagaimana pemahaman atas sebuah konsep selalu dimulai dengan mengkaji bagaimana konsep itu digunakan sepanjang sejarah. Hanya sesudah kita sudah cukup berendah hati untuk bersedia mengenali kontribusi berbagai opini dan pengetahuan yang membentuk konsep itu, sedikit demi sedikit cakrawala pemikiran kita meluas. Kita memakanai keterbatasan konsep dan mulai menangkap apa yang terletak melampaui konsep. Tapi begitu kita menerima adanya Realitas yang melampaui semua konsep, maka kita juga perlu bersedia rendah hati menerima konsekuensi logisnya. Realitas itu tidak bisa kita jangkau melalui laku mengetahui. Ringkasnya, tidak ada deskripsi antropomorfik yang bisa dikenakan kepada Realitas itu. Satu-satunya cara menarasikan Realitas itu adalah melalui imajinasi linguistik-melalui metafora. Metafora menyingkap cara baru untuk melihat apa yang diandaikan sebagai rujukannya, mentransformasikan bahasa, dan dengan demikian menghasilkan makna baru. Kendati, metafora juga terletak dalam kerangka nisbi manusia (Hlm. 71-72).

Gejala Bahasa

SALAHSATU gejala mencolok yang muncul sejak abad ke-20 adalah beralihnya bahasa dari sekedar medium untuk menyampaikan pikiran dan perasaan, menjadi syarat bagi kemungkinan pengenalan terhadap realitas. Masalah muncul ketika bahasa jatuh ke pemutlakan, sebagaimana pernah terjadi dengan epistemologi yang berhasrat keras mendaku kemutlakan landasan pengetahuan. Bahasa menunjuk ke dirinya sendiri dan mengais makna dari bahasa. Ketika terjadi konflik penafsiran, bahasa sudah kepalang kehilangan rujukan. Satu-satunya sumber acuan adalah bahasa itu sendiri tetapi yang kepalang bersikeras mendaku absolutisme kesahihan penafsirannya, dan terutama mendaku adanya identitas antara kebenaran dan otoritas penafsiran. Padahal makna bukan hanya bersumber di bahasa tetapi juga berisi pengalaman. Kebenaran bukan hanya merujuk ke kata tetapi juga ke fakta (Hlm. 73-74).

Sederhananya, terhadap jejak yang Ilahi, manusialah yang menjawab melalui tindakan penafsiran. Juga seandainya orang memilih mengikuti perintah yang ia yakini berasal dari tuhan, meminjam kalimat Popper, “whatever authority we accept, it is we who accept it”. Begitu manusia mendaku tahu tentang tuhan, Dia menjadi Ontologi (Sang Ada) yang dipertaruhkan melalui pelbagai epistemologi (laku mengetahui). Padahal epistemologi mengandaikan pengakuan akan ciri antropologis laku mengetahui. Popper merumuskannya dengan sederhana, “semua bentuk pengetahuan bisa salah” (Hlm. 76).

Upaya Trans-disiplin

Bagaimanakah menyikapi ketegangan semacam itu? Pendekatan ilmu-ilmu membawa kita ke dikotomi antara penjelasan dan penafsiran, antara fakta dan makna. Pendekatan ini tidak membawa kita keluar dari resiko dogmatisasi pengetahuan maupun pemutlakan penafsiran di satu pihak, dan skeptisisme nalar di lain pihak (Hlm. 77). Penalaran trans-disiplin lebih merupakan suatu meta-metodologi untuk melampaui keterbatasan suatu bidang pengetahuan dengan tujuan bukan untuk menghasilkan disiplin baru, unifikasi epistemologis, atau pun kesepakatan, melainkan mencari koherensi narasi dalam keanekaragaman gejala pengalaman manusia. Atau sedikitnya, menemukan saling pengertian akan titik-titik acuan. (Hlm. 78). Penalaran trans-disiplin bukan menantang dakuan-dakuan kebenaran salahsatu bidang ilmu, tetapi terutama mau memerbaiki cara satu bidang memahami bidang lainnya tanpa jatuh pada relativisme epistemologis yang sepenuhnya meluruhkan kepercayaan atas kebenaran. Penalaran ini terbuka terhadap ketakpastian pengetahuan dan penafsiran karena keseluruhan dipertimbangkan bukan saja lebih besar daripada bagian-bagiannya, tetapi juga punya corak berbeda yang belum sepenuhnya diketahui (Hlm. 78).

Berakhir dalam Kesedihan

Kita mengandaikan rasionalitas akan mengarahkan kita menjadi semakin matang dalam menafsirkan keragaman pengalaman. Nalar memang membantu manusia mengenali macam-macam kehendak yang

memicunya untuk bertindak. Akan tetapi, memilih satu di antara berlapis-lapis peringkat kehendak, ada di luar batas nalar. Nalar bukan tanpa batas. Di perbatasan itulah terletak arena pertarungan abadi antara nalar, kehendak, dan emosi. Di bilik terdalam manusia, terdapat daya-daya irrasional yang dengan sembunyi-sembunyi selalu mencari cara untuk memuaskan hasrat memenangkan pertarungan, “It’s all bound to end in tears” (Hlm. 81).

Kebenaran Itu Ibarat Hantu

(Yang masih tersimpan dalam Ciri Antropologis Pengetahuan)

Ada banyak alasan mengapa tribalisme sektarian menjadi semakin ganas. Tidak semua alasan itu bersumber dari agama. Beberapa kasus semata-mata balas dendam, beberapa lainnya dipicu oleh kekecewaan terhadap sistem politik dan ketidakadilan ekonomi, sedangkan lainnya lagi tumbuh dari monisme naif yang tidak sanggup memilah yang Ilahi dari yang alami dan konvensi. Apapun pemicunya, ekstrimisme agamis mengambil bentuk politik yang hanya menerima ide tentang kebenaran Ilahi yang sesuai dengan isi laci penafsiran mereka. Bahwa wahyu bersifat Ilahi dan sempurna adalah satu hal, tetapi pengetahuan dan pemahaman kita tentang agama adalah hal lain. Sang penafsir bisa salah. Apalagi, di belakang laku menafsirkan bersembunyi, meminjam ungkapan Nietzsche, kehendak untuk berkuasa dalam pengertian kehendak untuk menilai melalui cara pandang tertentu. Hal ini juga berlaku bagi pengetahuan dan pemahaman di dalam bidang-bidang lain termasuk sains. (Hlm. 213). Jika kita dapat memastikan suatu kebenaran ilmiah, sekurang-kurangnya kita mengetahui manfaatnya. Namun, persis dibelakang diktum itulah terletak daya dorong yang memicu sains untuk berkembang secara instrumental dan menjadi kekuatan teknis yang merembes masuk ke hampir semua lapisan kehidupan. Tentu kita perlu membedakan antara sains dan aspek sains dalam kehidupan sehari-hari (Hlm. 214). Berbagai masalah kebijakan publik bersembunyi di belakang ungkapan-ungkapan ilmiah teknis, sampai-sampai orang kebanyakan tidak memahami esoterisme ungkapan-ungkapan teknis itu, yang pada gilirannya menyingkirkan mereka dari perdebatan menyangkut jatuh bangun kehidupan sehari-hari. Semua itu dilakukan atas nama otoritas ilmiah, kebenaran ilmu, dan kepakaran (Hlm. 215).

Dalam buku ini terdapat beberapa penanggap yang mengomentari orasi ilmiah Karlina Supelli yang berjudul Ciri Antropologis Pengetahuan diantaranya Premana Premadi yang menekankan adanya aspek penafsiran atas realitas, bisa mengarah pada relativisasi. Dalam tanggapan baliknya, Karlina mencoba memerinci sejauh mana penafsiran berperan, dan bahwa sebetulnya itu suatu kewajaran, yang juga diakui ilmuwan. Adanya penafsiran tak berarti yang ada hanyalah bahasa, tapi seperti disampaikan Woodward, realitas dunia ditegaskan juga. Lebih jauh, ilmuwan sang penafsir itu, seperti diungkapkan fisikawan Liek Wilardjo dalam tanggapan berikutnya, adalah sosok yang konservatif. Liek membantu kita lebih jauh dalam memahami cara kerja ilmuwan dan, seperti biasa, dengan keluasan wawasannya meninjau paparan Karlina mulai dari aspek bahasa hingga implikasi teologisnya. Tanggapan Haidar Bagir membawa ide mengenai ciri antropologis pengetahuan itu lebih jauh. Dengan memusatkan perhatiannya pada Heidegger, Haidar menunjukkan bahwa sebetulnya pengaruh subjek yang mengetahui atas pengetahuan bukanlah sesuatu yang mesti disesali, bahkan boleh jadi bisa bersifat positif. Anto Mohsin penanggap berikutnya, dari latar belakang studi sains dan teknologi menelisik syarat-syarat melakukan penalaran trans-disiplin dan batas-batasnya. Teolog Gerrit Singgih menegaskan pentingnya kesadaran akan sifat antropologis dalam teologi, tapi juga bahwa kesadaran akan keterbatasan pemikiran muncul ketika batas itu terlampaui. Trisno Susanto, penanggap terakhir, meneruskan refleksi mengenai kaitan antara kosmologi dan corak pengetahuan umumnya dengan agama, dengan memperhatikan wajah agama yang mendua di ruang publik. Namun sesungguhnya wajah mendua itu dimiliki pula oleh akal budi (Hlm. 12-14).

Kesadaran akan keterbatasan yang dimulai dengan penjelajahan kosmologis, mengakui peran pada manusia sebagai subjek penafsir, peran bahasa dan upaya trans-disiplin, akhirnya bermuara pada suatu kesadaran etis hidup bersama dalam lautan keragaman, baik keragaman disiplin, keragaman aspirasi pada kebaikan dan bermacam keragaman lain. Dialog, kalau bukan kerjasama, menuntut pengakuan akan keterbatasan manusia, dalam ilmu, dalam agama, dalam segala hal. Kita tentu tidak ingin, seperti diingatkan Karlina, bahwa semuanya berakhir dalam duka (Hlm. 15).

Resensi : Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan

viewimage.php

Judul Buku          : Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan

Penulis                 : Haidar Bagir

Penerbit              : Mizan, Bandung

Cetakan               : Pertama, 2013

Tebal                     : xviii + 218

 

 

Umumnya, kata “cinta” identik dengan ajaran Kristiani. Sementara, Islam justru digambarkan sebagian media barat sebagai agama ‘pedang dan perang’. Buku ini melalui pendalaman tasawuf mencoba mematahkan anggapan tersebut.

Sejatinya, Islam merupakan agama cinta karena fungsinya sebagai rahmat bagi alam semesta. Rahmat ini dapat ditunjukkan dan disebarluaskan dengan berakhlak baik melalui silaturahim. Makna silaturahim sendiri ialah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati sesama. Berakhlak dengan akhlak-Nya adalah puncak kemuliaan manusia yang diteladani dari Nabi Muhammad. Akhlak Nabi Saw adalah Al-Qur’an. Nur Muhammad ialah penciptaan-Nya yang pertama.

Banyak pembahasan yang memperbarui pengetahuan kita saat membaca buku ini, termasuk di antaranya tentang neraka. Dirunut dari tata bahasa, disimpulkan bahwa neraka merupakan makhluk Allah. Keberadaannya kekal namun siksanya tidak kekal bahkan bisa jadi kehilangan fungsi ‘membakar’nya seperti yang terjadi pada Nabi Ibrahim. Bahkan sesungguhnya api neraka merupakan tanda tanda kasih sayang Allah yang ingin memurnikan kembali jiwa manusia.

Cinta dan kebahagiaan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kebahagiaan tak mungkin terwujud tanpa cinta. Cinta lahir dari gairah hidup dan gairah hidup tergantung pada keberadaan makna hidup pada diri seseorang.

Diungkap dalam buku ini bahwa kebahagiaan tidak sama dengan kumpulan nikmat (pleasure). Sifat kebahagiaan itu non-fisik, non-psikologis dan spiritual sehingga tidak terkait dengan kemasan luar seperti kenikmatan atau kesedihan. Karenanya, diperlukan sikap batin untuk menyikapi persitiwa apa pun dengan sabar dan syukur guna meredam kondisi yang berpotensi menggelisahkan hidup. Manusia berbakat bahagia sepanjang ia siap sedia untuk berbahagia. Prasangka baik kepada Allah mampu menembus kemasan peristiwa. Kemampuan mencari hikmah di setiap peristiwa ini harus terus dilatih agar kebahagiaan selalu bersama kita tanpa harus dikejar.

Tuhan adalah cinta. Setiap manusia adalah soulmate-Nya. Kedekatan pada-Nya adalah surga yang mustahil diperoleh tanpa perjuangan melawan nafsu dan egoisme, unsur yang membutakan hati untuk mencintai sekaligus melihat-Nya. Alam semesta sendiri tercipta dan digerakkan oleh cinta. Ujian adalah tanda cinta-Nya. Ujian sesungguhnya atas iman ialah kesiapan untuk memberi dan menolong orang lain. Orang yang mencinta pada hakikatnya menghamba pada yang dicintainya. Salah satu perjuangan untuk menggapai cinta-Nya ialah membersihkan hati dari nafsu duniawi. Jika Allah mencintai hamba-Nya, ia akan melihat dan mendengar dengan penglihatan dan pendengaran-Nya. Adapun syarat kebahagiaan sejati ialah berbuat kebaikan, serta mencintai kebenaran dan keindahan. Manusia tak akan pernah berbahagia sebelum bersahabat dengan Tuhannya. Siapa yang mengenal Allah akan mencintai-Nya dan siapa yang mengenal dunia akan membencinya. Menurut para sufi, puncak hubungan tertinggi dengan-Nya ialah saat manusia mencapai fana. Dalam keadaan fana, keakuan dan egoisme ditaklukkan sehingga manusia kembali menyatu dengan-Nya, sumber keberadaan kita.

Adapun tanda kecintaan kepada Allah ialah: 1. Tidak membenci pikiran tentang kematian karena kematian adalah pertemuan dengan-Nya, 2. Rela mengorbankan kehendaknya demi kehendak Allah, 3. Menghidupkan zikrullah dalam hati, 4. Mencintai Al Qur’an, 5. Tamak terhadap uzlah untuk tujuan ibadah, 6. Ibadah menjadi mudah baginya, 7. Mencintai-Nya serta membenci orang kafir dan fasik.

Salah satu kunci kebahagiaan ialah kemampuan mengembangkan ridha yakni bersyukur saat lapang, bersabar saat bencana dan rela dengan ketentuan-Nya. Pada hakikatnya, apa pun yang datang dari-Nya adalah baik. Hanya kemasan saja yang terlihat seolah bencana. Ini terkait erat dengan persepsi. padahal, di balik kemasan tersebut ada hikmah yang menjadi perantara maupun pembelok jalan menuju apa yang kita cari. Maka dengan ridha, apapun yang terjadi pada dirinya, ia merasa tenteram dan puas. Sehingga, sikap orang bahagia terhadap nasib buruk ialah tak segera terpengaruh karena tak terbiasa untuk takut atau sedih dan mampu menahan diri sehingga tetap bahagia. Dengan kata lain, kebahagiaan sejati itu bersifat tetap, tidak sirna atau berubah-ubah. Sabar dan syukur adalah dua sisi mata uang. Pada waktu yang sama, orang yang mampu bersyukur mampu pula bersabar dan sebaliknya.

Sabda Rasulullah Saw: “Kebaikan ialah apa-apa yang jika kamu lakukan hatimu tenang (damai), sedangkan kejahatan ialah apa-apa yang jika kamu lakukan hatimu gelisah.” Salah satu ciri akhlak baik adalah integritas. Dengan integritas, manusia setia pada moralitas. Tanpanya, manusia tak dapat menikmati hidup yang penuh, damai dan bahagia (fulfilled). Penyatuan antara kata dan perbuatan membentuk budi pekerti yang luhur. Dengan kata lain, integritas berarti berakhlak baik sesuai fitrah kebaikan manusia. Hanya manusia utuh yang bisa hidup dalam keseimbangan, kestabilan, ketentraman dan kebahagiaan.

Meski demikian, bukan berarti manusia harus mengabaikan kebutuhan duniawinya karena mereka memerlukan perlindungan, perawatan serta pemeliharaan jiwa dan jasad. Hal baik di dunia seperti perkawinan, makanan dan pakaian jika dipergunakan secara bijaksana dapat membantu tercapainya kebaikan di dunia yang akan datang (akhirat). Demikian pula nikmat kekayaan harus dikelola agar seimbang dengan kebutuhan jasmani dan rohani.

Bisa dikatakan, konten buku ini melampaui tips cara mencapai kebahagiaan seperti yang umum ditemui dalam buku-buku self-help dunia barat. Dari segi kebahasaan, pemilihan kata-kata dalam buku ini puitis tanpa harus kehilangan makna. Membacanya berulang-ulang relatif tidak menimbulkan kebosanan, bahkan menciptakan pemahaman baru yang lebih mendalam. Di samping itu, argumen dalam buku ini pun diperkuat oleh pendapat dan fakta yang diperoleh dari tokoh ilmuwan maupun filsuf barat. Meski demikan, ada aspek yang perlu diartikan lebih berhati-hati terkait makna penyatuan Tuhan dengan manusia. Singkat kata, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca maupun direnungi.

Tokoh Fiksi Yang Terasa Nyata

sosokfiktif1

Judul Buku      : Penokohan dan Sudut Pandang: Mencipta Sosok Fiktif yang Memikat dan Dipercaya Pembaca

Pengarang       : Orson Scott Card

Tebal Buku      : 276 halaman

Penerbit           : Penerbit MLC

 

Buku ini adalah salah satu buku dari serial Elemen Penulisan Fiksi yang diterbitkan oleh MLC. Buku-buku lainnya, selain tentang “Penokohan dan Sudut Pandang”, antara lain tentang “Plot”, “Dialog”, “Mengelola Konflik dan Ketegangan”, serta “Mengawali dan Mengakhiri Cerita dengan Cara yang Memikat”.

Seringkali setelah membaca, pembaca merasa ingin mengenal lebih jauh tokoh fiksi yang ada di dalamnya atau bahkan merasa seperti telah mengenal baik tokoh tersebut. Itulah salah satu kelebihan fiksi, dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang sifat dan perilaku daripada yang mungkin diperoleh dalam kehidupan nyata.

Tokoh fiksi dibuat berdasarkan bagaimana cara manusia saling mengenal dalam kehidupan nyata. Poin-poin cara untuk ini antara lain: tokoh dilihat dari perbuatannya, motif, masa lalu, reputasi, stereotip, jaringan pertemanan, kebiasaan dan pola, bakat dan kemampuan, selera dan kesuakaan, serta yang terakhir adalah tubuh.

Ada bab tersendiri yang membahas tentang hierarkis. Tentu ada perbedaan antara tokoh penting, tokoh sampingan, dan tokoh figuran. Ada teknik-teknik tertentu agar kita dapat membuat pembaca merasakan porsi yang tepat dari peran setiap tokoh yang kita ciptakan

Ada pula pembahasan mengenai cara meningkatkan taruhan emosional pembaca  atas tokoh-tokoh yang kita buat, di antaranya melalui penderitaan, pengorbanan, bahaya, ketegangan antara lawan jenis, serta tanda dan pertanda.

Banyak ilmu dan teori menarik lainnya yng disampaikan dalam buku ini. Namun, yang paling berkesan bagi saya adalah ketika pembahasan tentang perbedaan beberapa jenis sudut pandang dalam membuat tulisan fiksi serta kelebihan dan kekurangan dari jenis-jenis tersebut. Mungkin dapat sedikit disimpulkan dalam poin-poin ini:

  1. Penuturan orang pertama dan penuturan mahatahu, menurut sifatnya sendiri, lebih presentasional dari pada orang-ketiga terbatas –pembaca akan lebih memperhatikan si penutur. Jika tujuan Anda adalah membuat para pembaca terlibat secara emosional dengan tokoh-tokoh utama, dengan distraksi minimal dari kepercayaan mereka pada cerita, maka penutur-ketiga terbatas adalah pilihan terbaik.
  2. Namun, jika Anda menulis cerita lucu, penutur orang pertama atau penutur mahatahu dapat membantu Anda menciptakan jarak komedi. Penutur yang usil ini bisa membuat komentar miring atau menulis dengan kelucuan yang menarik perhatian, tanpa mengguncang atau mengejutkan pembaca yang terlibat mendalam dengan tokoh-tokohnya.
  3. Jika Anda ingin menulis secara ringkas, mencakup jarak waktu dan ruang yang besar atau banyak tokoh, tanpa perlu menulis ratusan dan ribuan halaman, penutur mahatahu mungkin pilihan terbaik Anda.
  4. Jika Anda ingin memasukkan kesan bahwa cerita ini adalah laporan saksi yang benar, orang-pertama biasanya terasa lebih tidak fiktif, lebih factual.
  5. Jika Anda tak yakin dengan kemampuan Anda sebagai penulis, tetapi Anda cukup yakin dengan kekuatan ceritanya, penuturan orang-ketiga terbatas menghasilkan gaya penulisan yang bersih dan tidak menonjol –cerita sederhana dikisahkan secara sederhana. Anda masih tetap dapat menulis indah dengan menggunakan orang-ketiga terbatas, tetapi tulisan Anda mungkin diabaikan –sehingga bisa menutupi banyak cacat. Namun, jika Anda tahu, Anda bisa menulis prosa yang memukau, tetapi ceritanya sendiri sering menjadi kelemahan Anda, orang-pertama dan penutur mahatahu memungkinkan Anda bermain dengan bahasa meskipun memecah sedikit perhatian dari cerita itu sendiri.

Kelebihan buku ini adalah ketika memaparkan teori-teori dalam menciptakan penokohan dan sudut pandang, Orson Scott melengkapinya dengan banyak contoh-contoh tulisan prosa fiksi yang berkaitan. Sang penulis memang merupakan pakar dalam bidang kepenulisan fiksi sehingga tidak diragukan lagi ilmu dan pengalaman yang dimilikinya. Pemaparannya memang sangat logis dan memukau.

Bagi saya kekurangan buku ini adalah terkait susunan pembahasannya yang kurang runut atau sistematis. Ada pembahasan-pembahasan tertentu yang saya rasa akan lebih runut bila ditaruh pada posisi lain. Tidak adanya penomoran bab dan subbab pembahasan membuat saya sebagai pembaca juga agak kesulitan dalam mencernanya, meski akhirnya tidak terlalu menjadi masalah.

Akhirnya saya merekomendasikan buku ini agar dibaca oleh siapa pun yang tertarik untuk membuat karya tulisan fiksi. Sebab, bagi para penulis, termasuk penulis pemula seperti saya, ilmu dan pengalaman Orson ini sangat penting untuk dimanfaatkan.

(Utomo)

Balada Si Roy: Yang Muda Yang Galau

balada si royOleh: Norma Aisyah

Yang muda yang galau agaknya pas menggambarkan novel Balada Si Roy. Berawal sebagai serial bersambung yang dimuat di majalah Hai, Gramedia kemudian menerbitkannya dalam 10 judul. Kini, Balada Si Roy hadir kembali dalam bundel yang memuat seluruh kisahnya.

Balada Si Roy menitikberatkan pada pergulatan batin Roy, sang tokoh utama sejak menginjak usia 17 hingga awal 20-an. Saat kecil, sang ayah yang sejak muda merupakan pecinta alam meninggalkannya dan ibunya untuk selamanya saat mencoba mencari jalan menembus gunung. Sang ayah hanya meninggalkan Joe, seekor anjing herder yang selalu menemani hari-hari Roy.

Kisah berawal saat Roy dan ibunya pindah ke Serang, kota kelahiran sang ibu. Di sana, ia terus merintis karier sebagai penulis lepas di sejumlah majalah remaja sambil membantu mengantarkan jahitan ibunya. Roy yang diimage-kan bad boy memiliki wajah tampan berkesan macho, tubuh yang tinggi, atletis, keren, namun memiliki sifat meledak-ledak dan selalu mengikuti kata hati dalam menyalurkan energi masa mudanya yang berlebihan. Selain sering bolos sekolah, tak jarang ia terlibat baku hantam dengan geng orang berduit di sekolah barunya, geng motor penguasa jalanan, maupun preman yang ditemuinya di sepanjang jalan. Roy memang mengidentikkan diri sebagai ‘pejalan’ – orang yang hidup di jalanan, masyarakat kelas menengah ke bawah yang selalu menghadapi kerasnya hidup dan membuka mata lebar-lebar terhadap penderitaan rakyat kecil. Ia pun acapkali berhenti sekolah dan kuliah demi memenuhi hasrat bertualang.

Dalam hal cinta, Roy nyaris tak mengenal kata berlabuh. Berangkat dari trauma akibat perlakuan kakak sepupu perempuan serta keluarga besar sang ayah padanya dan ibunya yang dianggap mencemari darah bangsawan mereka, sikap Roy pada perempuan yang dia sukai cenderung pahit. (more…)

Resensi: Love, Medicine & Miracles

Judul Buku          : Love, Medicine & Miracles, Lessons Learned About Self-Healing from a Surgeon’s Experience with Exceptional Patients

Penulis                 : Bernie S. Siegel, M.D.

Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Peresensi            : Ilyas Shidq Ul-Aziz

love miracles

Buku yang saya baca kali ini mencoba menyibak hal-hal yang sepetinya “mistis” di dunia kedokteran. Mencoba menerka apakah faktor-faktor emosional seperti cinta, kasih sayang, perhatian, keberanian, kendali atas diri sendiri, hasrat untuk hidup, dan rasa humor. Hingga proses meditasi dan visualisasi, pemusatan pikiran sebgai metode pengobatan tambahan. Hal-hal seperti itu diduga kuat menjadi faktor pendukung yang sangat signifikan untuk proses penyembuhan salah satu penyakit yang paling ditakuti di dunia, kanker.

Berawal dari sang penulis, Bernie S. Siegel, yang mengalami depresi ketika pekerjaannya sebagai dokter bedah kanker sampai pada titik jenuh, namun yang dirasakan bukan kejenuhan biasa yang dialami oleh profesi lain. Merasa pekerjaannya hanya sebagai “montir mekanik” yang mencoba menolong pasiennya yang melalui operasi pembedahan, namun sering kali merasa bersalah yang amat dalam ketika gagal menolong kehidupan pasiennya. Selain itu waktu yang dihabiskan untuk keluarga kadang harus dikorbankan ketika ada pasien darurat yang harus segera ditangani. (more…)

Masih Pacaran? Udah Putusin Aja!

sumber: goodreads.com

Oleh: Aulia Mulya Dewi

Judul buku          : Udah Putusin Aja!

Penulis                 : Felix Y. Siaw

Visual                    : Emeralda Noor Achni

Penerbit              : Penerbit Mizania

Tahun terbit       : 2013

Jumlah Halaman : 180 halaman

ISBN                      : 978-602-9255-43-0

 

Masa muda, adalah masa dimana segala sesuatu tumbuh, salah satunya cinta. Mulai dari orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak  sekalipun pasti merasakan cinta. Cinta dari kedua orangtuanya, cinta dari ayah ibunya. Lantas bagaimana dengan cinta terhadap lawan jenis? Tidak ada yang salah karena cinta itu anugerah. Justru cintalah yang (more…)